Laman

Kamis, 17 November 2011

Proposal Penelitian Skripsi Keanekaragaman dan Kemelimpahan Zooplankton


KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ZOOPLANKTON DI RAWA DESA RANTAU BUJUR KECAMATAN LABUAN AMAS UTARA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH


PROPOSAL
Untuk memenuhi persyaratan melakukan penelitian
Dalam rangka penyusunan Skripsi


Oleh


AJI MIRZA HABIBIE
NPM: 3060724013




JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
STKIP-PGRI BANJARMASIN
2011


KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN ZOOPLANKTON DI RAWA DESA RANTAU BUJUR KECAMATAN LABUAN AMAS UTARA KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

LATAR BELAKANG MASALAH
          Negara Indonesia adalah negara maritim terluas di dunia. Lebih dari dua pertiga dari luas negara Indonesia. Daerah perairan atau lahan basah meliputi kawasan laut (marin), kawasan muara sungai (estuaria), kawasan sungai (riverin), kawasan danau (lakustrin), kawasan rawa (palustrin), hingga kawasan lahan basah buatan. Semua badan air itu merupakan habitat dari berbagai macam biota air yang diantaranya memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Adawiyah, 2010).
          Organisme di dalam air sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidupnya. Salah satu organisme yang hidup di daerah perairan diantaranya adalah zooplankton yang masih tergolong sebagai plankton. Seperti halnya plankton, zooplankton ini juga berperan sebagai sumber makanan bagi biotan air lainnya. 
          Plankton menurut Odum (1996) adalah organisme mengapung yang pergerakannya kira-kira tergantung pada arus. Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu fitoplankton yang disebut plankton nabati dan zooplankton yang disebut plankton hewani. Zooplankton merupakan organisme yang amat banyak terdapat di seluruh massa air, mulai dari permukaan sampai di kedalaman dimana intensitas cahaya masih memungkinkan untuk fotosintesis (Nontji, 1987). 
Menurut Fachrul (2006) mengatakan zooplankton menempati posisi penting dalam rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan di perairan. Kemelimpahan zooplankton akan menentukan kesuburan suatu perairan oleh karena itu, dengan mengetahui keadaan plankton (zooplankton termasuk di dalamnya) di suatu daerah perairan, maka akan diketahui kualitas perairan tersebut.
          Rawa di desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara merupakan salah satu rawa yang sangat luas di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jumlah penduduk pada kawasan tersebut berdasarkan data dari Koordinator Statistik Kecamatan Labuan Amas Utara tahun 2009 adalah sebanyak 1.460 jiwa, laki-laki berjumlah 741 jiwa dan perempuan berjumlah 719 jiwa, dengan kepadatan penduduk tercatat sebesar 182,5 per km2. 
          Rawa di desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara mempunyai peranan yang sangat penting bagi penduduk sekitarnya, seperti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang seperti mencuci, memasak, mandi, bertani, beternak dan mencari ikan. Kebiasaan khas masyarakat yang menangkap ikan dengan cara menyetrum akan sangat berpengaruh terhadap ekosistem, salah satunya adalah keberadaan zooplankton di kawasan tersebut.
          Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Keanekaragaman dan Kemelimpahan Zooplankton Di Rawa Desa Rantau Bujur  Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah”.

RUMUSAN MASALAH
          Jenis-jenis zooplankton apa saja yang terdapat di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah ?
          Bagaimana keanekaragaman zooplankton di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah ?
          Bagaimana kemelimpahan zooplankton di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah?

BATASAN MASALAH
          Zooplankton yang diteliti merupakan sampel total yang berhasil diambil pada area perairan dengan menggunakan plankton net no.25.
          Identifikasi jenis-jenis Zooplankton sampai pada tingkat spesies.

TUJUAN PENELITIAN
          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
          Jenis-jenis zooplankton yang terdapat di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
          Keanekaragaman zooplankton yang terdapat di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
          Kemelimpahan zooplankton yang terdapat di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

MANFAAT PENELITIAN
          Manfaat dari penelitian ini adalah:
          Sebagai bahan informasi pada masyarakat sekitar tentang zooplankton sehingga diperoleh gambaran mengenai kualitas sumber daya air di Rawa Desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
          Sebagai informasi bagi mahasiswa program studi Pendidikan Biologi STKIP-PGRI Banjarmasin khususnya pengikut mata kuliah Zoologi Invertebrata.
Sebagai tambahan pengetahuan dan masukan untuk penelitian selanjutnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Keanekaragaman dan Kemelimpahan
          Keanekaragaman spesies meliputi kekayaan, kemerataan, diversitas dalam stand dan diantara stand. Kekayaan spesies adalah jumlah spesies pada beberapa area dalam suatu komunitas. Kemerataan menjadi maksimum bila semua spesies mempunyai jumlah individu yang sama. Diversitas spesies adalah gabungan kekayaan dan kemerataan spesies, dimana suatu komunitas dengan kekayaan komunitas yang tinggi dan kemerataan juga tinggi, maka komunitas itu akan mempunyai indeks diversitas yang tinggi pula. Sebaliknya suatu komunitas yang walaupun kekayaan jenisnya tinggi, tetapi kemerataannya rendah, maka indeks diversitasnya juga akan rendah. Besar tidaknya keanekaragaman dalam suatu komunitas ditentukan dengan indeks diversitas. Indeks deversitas yang sering digunakan adalah indeks Simpson dan indeks Shanon Wiener yang sering juga disebut indeks Shanon-Wiener. (Hardiansyah, 2010).
Sedangkan menurut odum (1993), keanekaragaman banyak dipakai untuk mengidentifikasi kondisi lingkungan suatu ekosistem dan juga identik dengan kestabilan suatu ekosistem, jika keanekaragaman suatu ekosistem relatif tinggi maka kondisi ekosistem tersebut cenderung stabil dan apabila tercemar cenderung rendah.
          Dengan memperhatikan keanekaragaman dalam komunitas dapat diperoleh gambaran tentang kedewasaan organisasi komunitas tersebut. Biasanya makin beranekaragam suatu komunitas makin tinggi organisme di dalam komunitas itu. Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaannya, sehingga keadaannya lebih mantap (Michael, 1995)
          Soejipta (1993) dalam Kusrini (2006) mengatakan bahwa kemelimpahan suatu makhluk hidup dipengaruhi oleh hubungan pengaruh semua faktor fisik dan kimia, tingkat sumber daya alam yang dapat diperoleh dari daur hidup makhluk hidup, pengaruh kompetitor, pemangsa, parasit serta semua proses mengenai populasi seperti laju kematian, laju kelahiran dan yang tergantung atau tidak tergantung pada kerapatan.
Zooplankton
          Menurut Nontji (1987) Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan utama yakni fitoplankton dan zooplankton. Plankton (zooplankton termasuk di dalamnya) adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya, kalaupun ada, sangat terbatas hingga organisme tersebut selalu terbawa oleh arus. Zooplankton dapat melakukan gerakan naik turun secara berkala atau dikenal dengan migrasi vertikal. 
          Nontji (1987) juga berpendapat bahwa zooplankton sering pula disebut plankton hewani, terdiri dari sangat banyak jenis hewan. Fitoplankton maupun zooplankton mempunyai peranan penting dalam ekosistem perairan, karena menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan perairan lainnya. Dalam rantai makanan, fitoplankton akan dimakan oleh hewan herbivor yang merupakan produsen sekunder, produsen sekunder ini umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa pula oleh hewan karnivor yang lebih besar sebagai produsen tersier. Zooplankton sangat kaya akan jenis. Ada hewan yang seluruh daur hidupnya tetap sebagai plankton, disebut holoplankton. Ada pula yang hanya sebagian dari daur hidupnya sebagai plankton. Kehidupan sebagai plankton dijalaninya hanya pada tahap awal, sebagai telur atau larva sedangkan bila telah dewasa hidup sebagai nekton (berenang bebas) atau bentos (hidup di dasar perairan). Plankton yang bersifat sementara ini disebut meroplankton.
           Pendapat lain menurut Fachrul (2006) mengatakan bahwa zooplankton yang hidup di perariran sangat beraneka ragam. Zooplankton dapat terdiri atas berbagai bentuk larva dan bentuk dewasa yang dimiliki hampir seluruh filum hewan. Keberadaan zooplankton menempati posisi penting dalam rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Oleh karena itu di dalam penelitian perairan, plankton (fitoplankton dan zooplankton) dapat digunakan untuk menentukan kualitas suatu perairan tersebut.
Menurut Nontji (2008) hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar perairan (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa telur dan larva. Kelompok-kelompok zooplankton yang paling umum ditemui antara lain adalah Copepoda, Euphausid, Mysid, Amphipod dan Chaetognath.

 Faktor Fisika – Kimia Dalam Perairan
          Adapun faktor-faktor fisika-kimia yang berpengaruh dalam perairan antara lain sebagai berikut :
Suhu
          Menurut Dharmawan, dkk (2004) Dibandingkan dengan lingkungan daratan, lingkungan perairan mempunyai variasi suhu yang relatif sempit. Hal ini karena air sebagai penutup permukaan bumi mempunyai peran peredam panas dari pancaran matahari. Kisaran toleransi hewan-hewan akuatik seperti plankton, bentos dan nekton pada umumnya relatif sempit dibandingkan dengan hewan-hewan daratan. Suhu perairan dapat bervariasi tergantung pada faktor adanya pencemaran pembuangan air limbah dan dapat menyebabkan kenaikan suhu perairan sehingga mengganggu kehidupan air (Odum, 1993)

Kedalaman
          Kedalaman suatu perairan mempengaruhi jumlah dan jenis organisme. Pada kedalaman yang tidak begitu tinggi menyebabkan cahaya dapat tembus sehingga proses fotosintesies oleh fitoplankton akan berlangsung yang hasilnya akan merupakan suatu mata rantai yang penting bagi keberadaan zooplankton dan juga hewan lainnya (Asmawi, 1994 dalam Kusrini, 2006).
Kecepatan Arus
          Menurut Odum (1996) arus dalam air tidak hanya sebagian besar mempengaruhi konsentrasi gas-gas dan hara, tetapi bertindak juga secara langsung sebagai faktor-faktor pembatas. Jadi, perbedaan-perbedaan di antara komunitas suatu sungai kecil dan kolam kecil dapat disebabkan sebagian besar oleh perbedaan besar dalam faktor arus.
Kekeruhan
          Asmawi (1994) dalam Kusrini (2006) Kekeruhan air disebabkan oleh partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, garam, bahan organik terurai, plankton dan organisme lainnya. Kekeruhan umumnya terjadi pada anak-anak sungai yang dasarnya berlumpur, adanya arus cenderung membuat tingkat kekeruhan yang lebih tinggi jika dibandingkan tanpa arus. Perairan yang tidak terlampau jernih dan tidak terlampau keruh baik untuk kehidupan organisme perairan.
          Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap, sering kali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktifitas. (Odum, 1996)
Substrat Dasar
          Substrat dasar perairan dibedakan atas 6 macam jenis yaitu: substrat lumpur, substrat pasir, substrat liat, substrat kerikil, substrat batu, dan substrat liat berpasir. Tipe substrat perairan dapat berpengaruh terhadap komposisi dan kemelimpahan organisme plankton baik itu zooplankton maupun fitoplankton dalam suatu ekosistem perairan (Odum, 1996).
Kadar Oksigen (O2) Terlarut
          Suplai oksigen di dalam air terutama sekali berasal dari 2 sumber, melalui difusi dari udara dan melalui fotosintesis oleh fitoplankton. Oksigen adalah salah satu gas yang mempunyai arti penting dalam metabolisme organisme. (Odum, 1996).
pH Air
          derajat keasaman (pH) adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan apakah suasana air tersebut bereaksi asam atau basa. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5 – 7,5. Air dapat bersifat asam atau basa tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion hidrogen di dalam air. Air limbah dan bahan buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air akan mengubah pH air yang pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air tersebut. (Asmawi, 1994 dalam Kusrini, 2006).

Karbondioksida (CO2) Bebas Terlarut
          Karbondioksida sangat mudah larut dalam air, yang juga diperoleh suplai dari respirasi, pembusukan dan tanah atau sumber-sumber di dalam tanah. Konsentrasi karbondioksida yang tinggi dapat dengan pasti membatasi bagi binatang-binatang, terutama konsentrasi karbondioksida yang demikian tinggi dapat diassosiasikan dengan konsentrasi oksigen yang rendah. Organisme-organisme perairan seperti plankton sangat tanggap terhadap konsentrasi tinggi karbondioksida dan dapat mati terbunuh apabila air mengandung banyak sekali karbondioksida yang tidak terikat. (Odum, 1996).

Rawa Air Tawar
          Dalam pengertian yang lebih luas, rawa digolongkan sebagai lahan basah, tetapi tidak berarti semua lahan basah hanya terdiri rawa saja. Menurut Konversi Ramsar (1971) dalam Noor (2004) yang dimaksud dengan lahan basah (wetlands) adalah daerah rawa, paya, gambut, atau badan perairan lainnya, baik alami maupun buatan, yang airnya mengalir atau tergenang, bersifat tawar, payau atau salin, termasuk kawasan laut yang mempunyai jeluk air pada saat surut terendah tidak lebih enam meter.
          Rawa merupakan sebutan untuk semua daerah yang tergenang air, yang penggenangannya dapat bersifat musiman atau pun permanen dan ditumbuhi oleh tumbuhan (vegetasi). Genangan air dapat berasal dari hujan atau luapan air sungai pada saat pasang. (Adawiyah, 2010).
          Rawa adalah kawasan sepanjang pantai, aliran sungai, danau atau lebak yang menjorok masuk (intake) ke pedalaman sampai sekitar 100 km atau sejauh dirasakannya pengaruh gerakan pasang. Pada musim hujan lahan tergenang sampai satu meter, tetapi pada musim kemarau menjadi kering, bahkan sebagaian muka air tanah turun mencapai jeluk (depth) > 50 cm dari permukaan tanah. (Noor, 2004).

Keadaan Umum Tentang Daerah Penelitian
          Rawa di desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah merupakan rawa yang sangat luas. Jumlah penduduk pada kawasan tersebut berdasarkan data dari Koordinator Statistik Kecamatan Labuan Amas Utara tahun 2009 adalah sebanyak 1.460 jiwa, laki-laki berjumlah 741 jiwa dan perumpuan berjumlah 719 jiwa, dengan kepadatan penduduk per km2 tercatat sebesar 182,5. Kebanyakan perkembangan yang terjadi pada salah satu kawasan pinggir rawa ini adalah perkembangan pemukiman pada kawasan pinggir rawa. Rawa di desa Rantau Bujur ini memiliki luas daerah ± 8 km2 dengan kedalaman ± 12 m.
          Rawa desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah memiliki batas wilayah sebagai berikut :
Bagian Utara berbatasan dengan desa Sungai Buluh.
Bagian Timur berbatasan dengan desa Mantaas.
Bagian Selatan berbatasan dengan desa Tabat.
Bagian Barat berbatasan dengan desa Sungai Buluh dan Samhurang.
Penelitian yang Relevan
          Hasil penelitian (Hatikah : 2010), tentang jenis dan kemelimpahan zooplankton di sungai Tarutan Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala, bahwa spesies-spesies zooplankton yang ditemukan di sungai Tarutan Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala pada daerah pemukiman terdiri atas 7 spesies meliputi Alonella sp, Cyclop sp, Pleuroxus sp, Difflugia sp, Vorticela sp, Pseudochlamys arcelloides, dan Nebela sp. Sedangkan jenis-jenis zooplanton yang ditemukan pada daerah persawahan terdiri atas 9 spesies yaitu Alonella sp, Difflugia sp, Turbatrix aceti, Vorticela sp, Cyclop sp, Pseudochlamys arcelloides, Difflugia acuminate, Nebela sp, dan Pleuroxus. Kemelimpahan zooplankton tertinggi pada daerah pemukiman dan persawahan ditempati oleh Alonella sp. NP pada daerah pemukiman sebesar 101,61 % dan pada daerah persawahan sebesar 35,75 %. Kemelimpahan terendah pada daerah persawahan ditempti oleh Nebela sp, dengan NP sebesar 12,77 %. 
          Berdasarkan hasil penelitian Tuti (2006) tentang keanekaragaman plankton yang terdapat di Sungai Basirih Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin, bahwa spesies-spesies plankton yang ditemukan di sungai Basirih Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin meliputi Chlorococcum sp, Cyclops Vicinus, Oscillatoria princeps, Spyrogyra sp, Gicocopsa sp, Trinema enchelys, Mesocyclops leuckari, Leucophyrys patula, Aphanochaeta sp, Dapnia pulex, Pseudendoctonium sp, Diaptomus kenai, Branchionus sp, Lyngbya sp, Binucleria tatrama, dan Nitzchia sp. Kemelimpahan (nilai penting) plankton tertinggi untuk daerah perusahaan dimiliki oleh Nitzschia sp dengan nilai pentingnya sebesar 24,087 %, daerah penduduk dimiliki oleh Pseudendoctonium sp dengan nilai penting sebesar 25,408 %, dan daerah alami dimiliki oleh Cyclops vicinus dengan nilai pentingnya sebesar 21,214 %. Besar indeks keanekaragaman tertinggi dimiliki oleh daerah alami dengan besar indeksnya sebesar 1,0620, kemudian ukuran kedua dimiliki daerah dekat perusahaan sebesar 1,0317, selanjutnya untuk keanekaragam terendahnya dimiliki oleh daerah perairan dekat penduduk yaitu sebesar 0,9890.
          Menurut penelitian (Kusrini : 2006) tentang keanekaragaman dan kemelimpahan plankton yang terdapat di perairan sungai Aluh-Aluh Kelurahan Aluh-Aluh Besar Kabupaten Banjar, bahwa spesies-spesies plankton yang ditemukan di perairan sungai Aluh-Aluh Kelurahan Aluh-Aluh Besar Kabupaten Banjar ada 35 spesies meliputi Mougenia sp, Euastrum sp, Volvox sp, Ulothrix sp, Nitzchia sp, Gompohosphaeria sp, Zignema sp, Diantoma sp, Eoupdiotamus sp, Oscillatoria sp, Asterionella sp, Binuclaria sp, Pediastrum sp, Entroplea sp, Tubelleria sp, Melosina sp, Lepocinclis sp, Chllomonsa sp, Anacyitis sp, Flagiliria sp, Palmella sp, Sutrirella sp, Naviculla sp, Aphanochaeta sp, Nauplius sp, Coscino sp, Cyclotella sp, Synendra sp, Macrasterias sp, Daphnia sp, Chlorococcum sp, Rivularia sp, Pinnunlaria sp, Spyrogira sp, Panelia sp. Besar indeks keanekaragaman tertinggi pertama ditempati oleh daerah muara yaitu 2,874, tertinggi kedua ditempati oleh spesies daerah tengah yaitu 2,755 dan tertinggi ketiga ditempati oleh daerah dalam 2,521.
          Hasil penelitian (Atria : 2007), tentang keanekaragaman dan kemelimpahan plankton di perairan sungai Andai Kecamatan Banjarmasin Utara bahwa spesies-spesies plankton yang ditemukan di perairan sungai Andai Kecamatan Banjarmasin Utara ada 31 spesies meliputi Stauronies sp, Spirogyra sp, Calanis sp, Ulotrix Aphanochaeta sp, Tabellaria sp, Navicula sp, Calotrix sp, Mougentia sp, Arcella sp, Diatoma, Calonies sp, Meridion sp, Anabaena sp, Oscillatoria sp, Euglena intermedia, Pleosoma hudsoni, Astereonella sp, Cyclotella sp, Anchistropus sp, Nitzschia sp, Melosira sp, Balanus sp, Ghomposphaeria sp, Zygnema sp, Platyias sp, Microspora sp, Pinnularia sp, Micrasterias sp, Coelastrum sp, dan Suerella sp. Kemelimpahan (nilai penting) plankton tertinggi pada daerah muara dimiliki oleh Spirogyra sp dengan nilai penting sebesar 20,728 %, daerah tengah dimiliki oleh Mougentia sp dengan nilai penting sebesar 34,561 % dan daerah dalam dimiliki oleh Mougentia sp dengan nilai penting sebesar 19,607 %.
Hasil penelitian (Jannah : 2010), tentang keanekaragaman dan kemelimpahan plankton di daerah rawa Bangkau Nagara Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, bahwa spesies-spesies plankton yang ditemukan di daerah rawa Bangkau Nagara Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan ada 30 spesies meliputi Arcella sp, Asterionella sp, Actinosphaerium sp, Anacystis sp, Aphanochaeta sp, Balanus sp, Cyclops sp, Closterium sp, Diatomae sp, Daphnia pulex, Desmidium sp, Evadne sp, Euglypha leaves, Mougeotia sp, Micrasterias sp, Melosira sp, Nitzschia sp, Navicula sp, Nauplius sp, Nyctiphanes sp, Tabellaria sp, Oscillatoria sp, Pleuroxus sp, Phacus, Rivularia sp, Stauroneis sp, Syprogira sp,  Ulotrix sp, Volvox sp, dan Zygnema sp. Besar indeks keanekaragaman tertinggi dimiliki oleh daerah terbuka (tidak bervegetasi) dengan besar indeks 3,108, kemudian untuk urutan yang kedua dimiliki oleh daerah bervegetasi dengan besar indeks 3,064, dan urutan terendah dimiliki oleh daerah perumahan dengan besar indeks 2,937.

METODE PENELITIAN
          Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi yaitu turun langsung ke lapangan untuk mengetahui keanekaragaman dan kemelimpahan zooplankton pada Rawa di desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Tempat dan Waktu Penelitian
          Penelitian ini dilakukan di Daerah Rawa desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sedangkan mengidentifikasi dan menghitung jumlah individu zooplankton dilakukan di labolatorium Pendidikan Biologi MIPA FKIP Unlam Banjarmasin. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama ± 3 (tiga) bulan dari April sampai dengan Juni 2011.

Alat dan Bahan Penelitian
Alat Penelitian
Alat yang dipakai dalam penelitian ini adalah:
Mikroskop, digunakan untuk mengamati sampel.
Kaca objek dan cover glas digunakan untuk mengamati sampel di bawah mikroskop.
Secchi disk, digunakan untuk mengukur kecerahan air.
pH meter, digunakan untuk mengukur derajat keasaman air.
Termometer, untuk mengukur suhu air.
Pipet tetes, untuk mengambil sampel dari wadah sementara.
DO meter, untuk mengukur oksigen terlarut.
Stopwatch, untuk mengukur waktu kecepatan arus.
Bola pimpong dan tali rafi, untuk mengukur kecepatan arus.
Meteran, untuk menentukan jarak tiap titik sampel.
Botol sampel, untuk menampung sampel air.
Kertas label digunakan untuk memberi tanda pada botol koleksi.
Plankton net no.25, untuk menangkap plankton.
Foto mikroskop, untuk memotret plankton.
Kamera, untuk alat dokumentasi.

Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang diperlukan adalah:
Sampel air
Larutan formalin 1-2%

Populasi dan Sampel Penelitian
          Populasi yang diamati adalah semua zooplankton yang ada di Daerah Rawa di desa Rantau Bujur Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Sedangkan sampel pengamatan adalah semua jenis zooplankton yang diambil pada Daerah Rawa di desa Rantau Bujur sepanjang 300 meter yang dibagi ke dalam 3 zona pengamatan, yaitu zona I yaitu daerah terbuka yang mewakili daerah yang tidak memiliki vegetasi, zona II daerah bervegetasi yaitu mewakili daerah yang memiliki vegetasi dan zona III daerah pemukiman yang mewakili daerah perumahan penduduk. Pada setiap zona dilakukan pengambilan 9 titik pengamatan dengan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh total sampel sebanyak  81 sampel pengamatan.

Prosedur Penelitian
Tahap persiapan
Membuat permohonan izin penelitian.
Melakukan observasi pendahuluan.
Mempersiapkan alat-alat dan bahan penelitian.

Tahap pelaksanaan
Tahap-tahap yang harus dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Menentukan lokasi yang akan menjadi tempat penelitian.
Membagi daerah penelitian menjadi 3 zona pengamatan yaitu zona I 
Zona I mewakili daerah terbuka (tidak bervegetasi)
Zona II mewakili daerah bervegetasi
Zona III mewakili daerah perumahan
Mengukur parameter lingkungan pada setiap zona pengamatan meliputi kecepatan arus, kecerahan air, suhu, pH dan oksigen terlarut.
Pada masing-masing zona tersebut diambil 9 titik pengamatan dengan jarak antar titik secara teratur, sehingga jumlah total titik pengambilan sampel pada semua zona adalah 27 titik. (lihat lampiran 1).
Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali pada masing-masing titik sampel pengamatan.
Mengambil sampel zooplankton yang ada dipermukaan air dengan cara mengambil air sebanyak 5 liter kemudian disaring menggunakan plankton net tarik no.25 dan mengukur kedalaman air.
Hasil penyaringan ditampung di dalam botol koleksi kemudian ditambah formalin 1-2% dan di beri label setiap botol tersebut.
Mengidentifikasi jenis-jenis plankton sesuai dengan kunci determinasi yang mengacu pada buku Fresh water Biology (Edmondson, 1959).
Sampel zooplankton yang sudah diberi formalin tersebut kemudian dihitung dengan menggunakan kaca objek.
Pada tiap-tiap sampel zooplankton diambil sebanyak 2 tetes, dan diletakkan di atas kaca objek kemudian ditutup dengan kaca penutup.
Melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop.
Melakukan pemotretan terhadap semua spesies zooplankton yang di temukan menggunakan fotomikroskop.

Analisis Data
 Keanekaragaman Zooplankton
Untuk mengetahui keanekaragaman zooplankton digunakan indeks keanekaragaman dari Shannon-Winner (H’) (Odum, 1993) dengan rumus:
H’ = -∑ Pi log Pi  dimana Pi= Ni/N
Keterangan:
H’= Indeks keanekaragaman Shannon-Winner
Ni= Banyak individu (spesies) ke-i
N = Jumlah total individu
Pi= Kemelimpahan proporsional dari jenis ke-i sehingga Pi= Ni/N

Kemelimpahan Zooplankton
Kemelimpahan zooplankton dianalisis dengan menggunakan  nilai penting (NP) berdasarkan rumus menurut Odum (1993), yaitu:
Frekuensi (F)
Frekuensi Relatif (FR) =  x 100%
Kerapatan (K)
Kerapatan Relatif (KR) =  x 100%
Nilai Penting (NP) = FR + KR




Lampiran
Foto Lokasi Penelitian
Zona I daerah terbuka (tidak bervegetasi)

Zona II daerah bervegetasi

Zona III daerah pemukiman


Daftar Pustaka
Anonim, 2010. Kecamatan Labuan Amas Utara Dalam Angka. Koordinator Statistik Kecamatan Labuan Amas Utara. Kasarangan.

Adawiyah, R. 2010 Diktat Kuliah Ekologi Lahan Basah. STKIP PGRI Banjarmasin. Banjarmasin

Atria. 2007. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Plankton di Peraiaran Sungai     Andai Kecamatan Banjarmasin Utara. STKIP-PGRI Banjarmasin (Tidak dipublikasikan).

Dharmawan, A. dkk. 2004. Common Textbook Ekologi Hewan. Universitas Negeri Malang. Malang

Edmonsons, W.T. 1959. Fresh Water Biology, John Wily and Sons Inc. New York.

Evanulya. S 2010. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Zooplankton Di Kolam Jorong Barutama Greston Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut. Universitas Lambung Mangkurat (Tidak dipublikasikan).

Ferianita Fachhrul, M. 2006. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta

Hardiansyah. M, 2010. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin.

Hatikah. 2010. Jenis dan Kemelimpahan Zooplankton Di Sungai Tarutan Kecamatan Marabahan Kabupaten Barito Kuala. STKIP-PGRI Banjarmasin (Tidak dipublikasikan).

Jannah. R. 2010. Keanekaraman dan Kemelimpahan Plankton Di Daerah Rawa Bangkau Nagara Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. STKIP-PGRI Banjarmasin (Tidak dipublikasikan).

Kusrini, H. 2006. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Plankton Di Perairan Sungai Aluh-Aluh Besar Kabupaten Banjar. STKIP-PGRI Banjarmasin (Tidak dipublikasikan).

Michael, P. 1995. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboraturium. UI. Jakarta.

Noor Muhammad, 2004 Lahan Rawa Sifat dan Pengelolan Tanah Bermasalah Sulfat Masam, Rajawali Pers. Jakarta.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.

Nontji, A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press. Jakarta.

Odum, E. 1996. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tim Penyusun Pedoman Penulisan Skripsi. 2010. Pedoman Penulisan Skripsi. STKIP-PGRI Banjarmasin. Banjarmasin.

Tuti. 2006. Keanekaragaman Plankton yang Terdapat di Sungai Basirih Kecamatan Banjarmasin Selatan Kota Banjarmasin. STKIP-PGRI Banjarmasin (Tidak dipublikasikan).

Sciento. 2010. Turbatrix, (Online), (http://www.sciento.co.uk/catalog/ category/21/. Diakses pada 25 Juni 2011)

Carolina. 2010. Anacystis Meneghini Synechococcus Nägeli, (Online) (http://silicasecchidisk.conncoll.edu/LucidKeys/Carolina_Key/html/Anacystis_Main.html. Diakses pada 25 Juni 2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tuliskan Komentar Anda Yang Bersifat Membangun Di Sini . .